DKI Perlu Sumber Air Baku

JAKARTA, KOMPAS.com — Sebagai ibu kota negara, Jakarta harus memiliki banyak sumber air baku. Krisis air bersih akibat menurunnya pasokan air baku, seperti yang terjadi pekan lalu, seharusnya dapat dihindari jika Jakarta tidak hanya bergantung pada kiriman air dari Waduk Jatiluhur. “PT PAM Jaya harus menyiapkan beberapa alternatif sumber air baku. Jika ada gangguan pasokan dari salah satu sumber, seluruh kota tidak harus menderita krisis air bersih,” kata Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Selamat Nurdin, Senin (10/5/2010) di Jakarta Pusat. Pekan lalu, terendamnya pompa air oleh lumpur di Curug menyebabkan pasokan air baku ke Jakarta turun 40 persen. Kiriman air baku dari Waduk Jatiluhur memenuhi lebih dari 90 persen kebutuhan Jakarta sehingga penurunan pasokan ini memicu terjadinya krisis air bersih di tingkat warga. Nurdin mengatakan, bagi kawasan utara Jakarta, PAM perlu merintis teknologi penyulingan air laut menjadi air bersih. “Di utara Jakarta terdapat banyak aktivitas komersial yang bersedia membayar air bersih dengan tarif lebih mahal, tetapi pasokannya harus terjamin. Apalagi, Kawasan Ekonomi Khusus Marunda akan segera dibangun dan membutuhkan banyak air bersih untuk mendukung proses produksi,” kata Nurdin. Anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, M Sanusi, mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI dan PAM Jaya perlu menciptakan terobosan untuk membangun penampungan air di kawasan hulu 13 sungai. Penampungan diperlukan sebagai pemasok air baku yang baru. Menurut pengamat hidrologi Universitas Indonesia, Firdaus Ali, DKI juga harus membangun tempat penampungan air hujan dan pengolahan air limbah perkotaan sebagai sumber air baku. Di sisi lain, kedua mitra PAM Jaya harus menurunkan tingkat kehilangan air agar biaya produksi menjadi lebih murah. Di tempat lain, Wali Kota Jakarta Barat Djoko Ramadhan mengusulkan memanfaatkan air laut untuk mengatasi krisis air. “Sebagian besar Jakarta kan daerah pantai, dengan bentangan pantai 32 kilometer dari timur ke barat. Kenapa tidak memanfaatkan air laut sebagai air bersih?” kata Djoko. Saat menjadi Bupati Kepulauan Seribu, Djoko membuat instalasi untuk destilasi air laut menjadi air bersih di Pulau Panggang. Instalasi ini dapat dibuat di utara Jakarta guna mengatasi kekurangan air bersih. Aetra pulih Keenam pompa di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pulo Gadung milik PT Aetra Air Jakarta dapat beroperasi kembali. Rusaknya pompa di IPA Pulo Gadung turut memperparah krisis air. Beroperasinya keenam pompa itu membuat produksi air IPA Pulo Gadung kembali normal pada debit 4.000 liter per detik sejak Minggu. Direktur Utama PT Aetra Air Jakarta Syahril Japarin menjamin pasokan untuk Jakarta Timur, sebagian Jakarta Pusat, dan sebagian Jakarta Utara sudah normal. Aetra butuh satu sampai dua hari untuk memulihkan distribusi air ke wilayah yang belum terjangkau. Selama krisis air, Aetra menyalurkan 221 tangki air berkapasitas 4.000 liter ke sejumlah kawasan dan rumah sakit. Sementara itu, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia meminta Pemprov DKI membuat standar pelayanan minimum air bersih. Koordinator advokasi masalah air minum YLKI, Karunia Asih Rahayu, mengatakan, pelayanan air minum DKI Jakarta belum sebanding dengan biaya yang dikeluarkan konsumen. (ECA/WIN/COK/ART)

Sumber : Kompas Cetak

0 Responses to “DKI Perlu Sumber Air Baku”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




air bersih hidup sehat


%d bloggers like this: